Di Kota Palu, Orang Jawa Makan Kelor Tak Bisa Pulang ke Jawa
REP | 24 December 2013 | 14:14
Orang Jawa, kalau sudah berada di Kota Palu-
Provinsi Sulawesi Tengah, dan telah makan sayur Kelor, dia tidak akan
pernah bisa pulang lagi ke Jawa. Dia akan ingat terus dan menetap di
Kota Palu.
Tidak jelas sejak kapan ungkapan ini berkembang
ditengah masyarakat Kota Palu. Pengalaman pribadi saya, akhir tahun ’94
pertama kali saya sampai di Tana (tanpa H) Kaili (etnis asli lembah Palu), waktu itu juga dibilangin begitu sama tetangga.
“Mas, orang Jawa kalo so makan Kelor te bisa lagi pulang ke Jawa.”
Waduh, dalam hati, saya yang waktu itu baru tamat esempe, dan tidak pernah punya niat mau menetap di Kota Palu, jelas menolak ucapan tetangga itu. Dia dipanggil Mangge(om) Jatu.
Eh, sebelum berlanjut, di Kota Palu, seluruh orang
Jawa, baik tua-muda, mulai ujung timur hingga ujung kulon, yang pria
pasti dipanggil Mas, dan yang perempuan pasti dipanggil Mbak.
Oke, lanjut lagi. Waktu itu, jelas saya merasa
aneh, karena kalau di Blitar, mungkin juga daerah Jawa lainnya. Daun
kelor digunakan untuk memandikan jenazah. Karena, konon, bagi orang
Blitar daun kelor bermanfaat untuk melunturkan berbagai macam hal yang
berbau mistik, mulai susuk bertuah hingga ilmu kedigdayaan. Lha sama
orang Kaili kok dijadikan sayur favorit.
Tapi itulah keindahan ragam budaya Nusantara. Orang-orang di Jawa tua bilang “Seje Deso Bedo Coro” (lain desa beda cara).
Daun kelor yang merupakan menu favorit orang Kaili
ini, untuk memasaknya sangat mudah dan murah. Daun kelor yang telah
dipisahkan dari batang dan gagang ini, hanya dimasak dengan Santan Kepala (Jawa=Kanil), garam, rica (Lombok/cabe) lebih nikmat yang hijau dan penyedap rasa.